Jumat, 11 Maret 2016

MAKALAH FILSAFAT ILMU








DISUSUN
OLEH:
KELOMPOK 1
HERMAN                              : 1494040002
ASMIRUL YAQIEN             : 1294041034
ROSMINI                               : 1494040001
YATNA RAMADHAN         : 1194040036 
NURHAYATI. P                   : 1494040003

PENDIDIKAN EKONOMI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2015


BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG

Sejak lahirnya manusia didunia sebagai makhluk bumi, sebenarnya mereka telah memiliki ilmu pengetahuan sebagai penolong hidupnya untuk bertahan dan melangsungkan keberlanjutan generasinya hinga hari ini. Dalam perspetif agama, ilmu bersumber dari sang khalik. Ketika tuhan hendak menciptakan manusia, tentu saja telah di bekali denga seperangkat alat deteksi dan pengembangan ilmu pengetahuan.  Berdasarkan catatan sejarah, sebagaimna di ungkapkan Hamdani dan Fuand (2007), plato mengumpamakan seorang filsuf ialah laksana seorang kapten kapal yang menghabiskan banyak waktunya memandang bintang-bintang di langit. Para kelasi mengungkapkannya sebagai parasit tidak berguna, tapi kata plato, tanpa kerja sang kapten kapal akan tersesat, dan pekerjaan para kelasi menjadi sia-sia, begitulah gambaran posisi dan peran filsafat dalam upaya mengembangkan ilmu pengetahuan.  Sejarah perjalanan ilmu pengetahuan mulai dari klasik hingga kontenporer tercatat, banyak temuan ilmuwan yang tidak dapat menjawab secara tuntas karena keterbatasan ilmu pengetahuan, metodologi, dan tentunya keterbatasan manusia itu sendiri.

Dilihat dari sejarah perkembangannya, Van Peursen memberikan tiga tahapan pemikiran dan kebenaran manusian, yakni:
a.       Mistis, kebenaran atau kenyataan yaitu sesuatu yang “given”. Sesuatu yang mistis tidak perlu ditanyakan, karena kalau di pertanyakan manusia tidak akan bisa menjawab berdasarkan ilmu pengetahuan dan keterbatasan berpikirnya.
b.      Ontologis, tahapan ini manusia dan masyarakat mendapatkan kebenaran melalui riset, logika, dan empiris.
c.       Fungsional, kebenaran dan kenyataan di letakkan pada fungsi atau relasi kemanfataannya secara aksiologis.
Filsafat yaitu hasil akal seorang manusia yang mencari dan memikirkan sesuatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya (radic). Dengan kata lain, filsafat adalah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat kebenaran segala sesuatu. Dalam kaitan dengan cara berfikir, ada tiga karakteristik cara berpikir filsafat:
1.      Sifat menyeluruh, maksudnya seorang ilmuwan tidak akan pernah puas  jika hanya mengenal ilmu hanya  dari segi pandang ilmu itu sendiri. Dia ingin tahu hakikat ilmu dari sudut pandang yang lain, kaitannya dengan moralitas, serta ingin yakin apakah ilmu ini membawa kebahagiaan dirinya.  Hal ini akan membuat ilmuwan tidak akan merasa sombong dan mengaku paling hebat, atau diatas langit masih ada langit, sebagaimana Socrates menyatakan dia tidak tahu apa-apa.
2.      Sifat mendasar, maksudnya sifat yang tidak begitu saja percaya bahwa ilmu itu benar , mengapa ilmu itu benar? Bagaimana proses  penilain berdasarkan kriteria itu dilakukan? Apakah kriteria itu sendiri benar? Lalu, benar sendiri itu apa? Seperti suatu pertanyaan yang melingkar  yang harus dimulai dengan menentukan titik yang benar.
3.      Spekulatif, maksudnya menyusun suatu lingkaran dan menentukan titik awal sebuah lingkaran yang sekaligus menjadi titik, akhirnya dibutuhkan suatu sifat spekulatif baik dari segi proses, analis, maupun pembuktiannya. Sehingga dapat dipisahkan mana yang logis atau tidak.
Cakupan filsafat lebih luas dari ilmu, wilayah filsafat mencakup yang wujud dan tidak wujud (empiris dan non-empiris) cakupan ilmu empiris saja. Awal mulanya filsafat yang melakukan pembahasan secara sistematis, rasional, logis dan empiris. Kemudian pada tataran berikutnya berkembang dan bercabang sehingga menjadi ilmu yang lebih luas dan berkesinambungan, maka dari sinilah timbulnya pemahaman untuk penyatuan filsafat dan ilmu menjadi filsafat ilmu, yakni suatu kajian khusus tentang hakikat ilmu pengetahuan.
B.      RUMUSAN MASALAH
1.      Memahami dan mengetahui hakekat filsafat ilmu beserta pengertian dan cakupannya
2.      Bagaimana objek dan metode filsafat ilmu dalam kehidupan ilmu pengetahuan
3.      Apa tujuan dari filsafat ilmu itu sendiri.

C.     TUJUAN
Agar supaya mahasiswa mampu untuk memahami dan mendalam ilmu pengetahuan dengan di terapkannya filsafat ilmu di perguruan tinggi sebagaiman dinyatakna dalam garis-garis besar haluan negara yang kemudian dalam perkembangan selanjutnya dengan di berlakukannya kurikulum berbasis kompetensi. Maka mata kuliah filsafat ilmu dikelompokka dalam mata kuliah umum yang menjadi dasar pembentukan kepribadian yang tinggi, cerdas dan bertaqwa kepada tuhan yang maha esa serta memiliki wawasan yang luas, bersikap dan bertindak sesuai dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, dan dalam melaksanakan tugas pembangunan nasiona.
Visi mata kuliah filsafat ilmu menjadi sumber nilai dan pedoman bagi penyelenggaraan program studi dalam mengantarkan mahasiswa mengembangkan kepribadiannya. Sedangkan   yang dirumuskan adalah membantu mahasiswa agar mampu mewujudkan nilai dasar agama dan kebudayaan serta kesadaran berbangsa dan bernegara dalam kehidupannya supaya dapat menerapkan ilmu penegetahuan, teknologi dan seni yang dikuasainya dengan rasa tanggung jawab kemanusiaan.

















BAB II
PEMBAHASAN


A. HAKEKAT FILSAFAT ILMU
Filsafat merupakan induk dari segal ilmu, filsafat telah mengantarkan kepada suatu fenomena adanya siklus pengetahuan sehingga membentuk suatu komfigurasi dengan menunjukkan bagaimana pohon ilmu pengetahuan telah tumbuh dan berkembang secara  subur sebagai fenomena kemanusiaan dan menjadi banyak cabang ilmu pengetahuan. Dengan demikian hakikat filsafat ilmu pengetahuan akan berlayar atau berjalan juga filsafat ilmu menentukan kemana ilmu pengetahuan akan diantar atau di kembangkan. Filsafat ilmu merupakan kreativitas seorang filsuf dengan keilmuannya yang menggunakan logika berfikir dan melahirkan ilmu pengetahuan yang beragam pada sebuah pohon ilmu kemudian mengantarkan dan mengembangkannya menjadi cabang yang banyak secara mandiri.
Sejarah juga membuktikan, sebagaiman di jelaskan juraid (2006), bahwa perjalanan manusia telah diantarkan dalam berbagai fase kehidupan. Sejak zaman kuno, zaman pertengahan dan zaman modern sekarang ini telah melahirkan suatu cara pandang terhadap gejala alam dengan berbagai variasi, disinilah pemikiran filsuf telah mengantarkan umat manusia dari mitologi oriented pada suatu arah menuju pola fikir ilmiah oriented, perubahan dari pola fikir mitosentris ke logosentris dalam berbagai sekmentasi kehidupan.
`
B. PENGERTIAN FILSAFAT ILMU
Filsfat ilmu adalah telaah kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu, baik ditinjau dari sudut ontologi, epistemologi, maupun aksiologis yang di lakukan melalui proses dialektika secara mendalam (radic) yang sistematis dan bersifat spekulatif.
Filsafat ilmu yaitu bagian dari epistimologi yang secara spesifik mengkaji hakikaat ilmu. Dan banyak pengertian yang dapat di pahami tentang filsafat ilmu diantaranya, yaitu:
1.      Michael V. Berry: the study of science of the inner logic if scientific theories, and the relations between experiment and theory of scientific methods. “ penelaahan tentang logika intern dari teori ilmiah dan hubungan antara percobaan dan teori, yakni tentang metode ilmiah.”.
2.      May Brodbeck: analisis yang netral secara etis dan filosofis penggambaran dan penjelasan tentang ilmu.
3.      Peter Caws: mengatakan bahwa filsafat ilmu merupakan suatu bagian filsafat, yang berbuat bagi ilmu apa saja yang terdapat dalm filsafat seumumnya, pada seluruh pengalaman manusia.
4.      Ariestoteles murid plato mengatakan filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung didalamnya ilmu metafisika, logika, retrorika, polotik, sosial budaya, dan etestika.


a.       Ciri-ciri filsafat
Beberapa ciri berfikir kefilsafatan yang perlu diketahui antara lain:
1.      Radical, artinya berfikir sampai keakar-akarnya, sehingga sampai pada hakikat atau subtansi yang difikirkan.
2.      Universal, pemikiran filsafat menyangkut pengalamn umum manusia
3.      Konseptual, artinya hasil generalisasi dan abstrak pengalaman manusia.
4.      Koheren, dan konsisten (rantut) koheren artinya dengan kaidah-kaidah berfikir logis. Konsisten artinya tidak mengandung kontradiksi.
5.      Sistematik, artinya pendapat yang merupakan uraian kefilsafatan itu harus saling berhubungan secara teratur dan terkandung adanya maksud dan tujuan tertentu.
6.      Komprehensif, artinya mencakup atau menyeluruh.
7.      Bebas, artinya sampai batas-batas yang luas.
8.      Bertanggung jawab, artinya seseorang yang berfilsafat adalah orang berfikir sekaligus bertanggung jawab terhadap hasil pemikirannya, paling tidak hati nuraninya.
b.      Bidang-bidang utama filsafat
1.      Metafisik
Metafisik adalah bidang utama filsafat, metafisik adalah cabang filsafat yang membahas pesoalan tentang keberadaan (being) atau eksistensi (eksistance). Archie J. Bahn mengatakan bahwa metafisik merupakan suatu penyelidikan pada masalah prihal keberadaan.
Istilah metafisika itu sendiri berasal dari yunani meta – ta – physika yang dapat diartikan sesuatu yang ada di balik atau dibelakang benda-benda fisik. Kendakipun demikian ariestoteles sendiri tidak memakai istilah metafisika, melainkan proto philosophia (filsafat pertama).
2.      Epistomologi
Epistemologi adalah bidang kedua filsafat. Epistomologi berasal dari yunani “episteme” dan “logos”. Episteme artinya pengetahuan (knowledge), logo artinya teori. Dengan demikian epistemologi secara etimologi berarti teori pengetahuan.
3.      Aksiologi
Aksiologi adalah bidang utama ketiga filsafat yang membahas tentang nilai. Istilah aksiologi berasal dari kata exios dan logos. Axios artinya nilai atau sesuatu yang berharga, Logos artinya akal, dan teori. Aksiologi artinya teori nilai.
c.       Azas-azas dalam berfilsafat
Dalam berfilsafat ada lima prinsip penting agar calon filsufitu mendapat hasil optimal (the Liang Gie, 1982: 48-49) yaitu:
1.      Meniadakan kecongkakang (maha tau) sendiri, seseorang yang ingin memulai berfilsafat harus mampu mengendalikan dirinya, terutama sikap merasa diri sudah tahu tentang hal yang akan di pelajari.
2.      Perlunya sikap mental berupa ksetiaan pada kebenaran (a loyality to truth) kesetiaan pada kebenaran yang diperjuangkannya.
3.      Memahami secara bersungguh-sungguh persoalan-persoalan filsafat serta berusaha memikirkan jawabannya.
4.      Latihan  intelektual itu dilakukan secara aktif dari waktu ke waktu dan diungkapkan secara lisan maupun tetulis.
5.      Sikap keterbukaan diri.


C. CAKUPAN FILSAFAT ILMU
The Liang Gie (2007) mengemukakan cakupan filsafat ilmu dari para filsuf dunia sebagai berikut:
1.      Peter angeles, yang menurutnya filsafat ilmu mempunyai empat bidang konsentrasi utama
a.       Telaah mengenai berbagai konsep, pra-anggaran dan metode ilmu
b.      Telaah dan pembenaran mengenai prosese penelaran dalam ilmu
c.       Telaah mengenai keterkaitan antara berbagai ilmu
d.      Telaah mengenai akibat penegetahuan ilmiah bagi hal-hal yang berkaitan denga penyerapan dan pemahaman manusia terhadap realitas.
2.      Cornelius Benyamin, yang memebagi pokok soal filsafat ilmu dalam tiga bidang , yaitu:
a.       Telaah mengenai metode ilmiah dan la,bang ilmiah
b.      Penjelasan tentang konsep dasar dan pangkal pendirian ilmu.
c.       Aneka telaah mengenai saling keterkaitan antara berbagai ilmu dan implikasinya bagi suatu karier alam semesta.
D. OBJEK FILSAFAT ILMU
Pada dasarnya setiap ilmu memiliki dua macam objek yaitu objek material dan objek formal.
1.      Objek material atau pokok bahasab filsafat ilmu adalah ilmu pengetahuan itu sendiri, yaitu pengetahuan yang telah di susun secara sistematis dengn metode ilmiah tertentu.
2.      Objek formal filsafat ilmu adalah hakikat (esensi)ilmu pengetahuan artinya filsafat ilmu lebih menaruh perhatian terhadaap problema-problema  mendasar ilmu pengetahuan, yakni:
-          Landasan ontologis pengembangan ilmu, artinya titik tolak penelaahan ilmu pengetahuan di dasari atas sikap dan pendirian filosofis yang dimiliki oleh seseorang ilmuwan.
-          Landasan epistemologis pengembangan ilmu artinya titik tolak penelaahan ilmu pengetahuan didasarkan atas cara dan prosedur dalam memperoleh kebenaran.
-          Landasan aksiologis pengembangan ilmu merupakan sikap etis yang harus di kembangkan oleh seseorang ilmuwan, terutama dalam kaitannya dengan nilai-nilai yang diyakini kebenarannya.
E. METODE FILSAFAT ILMU
Metode adalah cara bertindak menurut sistem atau aturan tertentu. Metode juga bisa di katakan sebagai proses atau prosedur yang sistematis menurut prinsip atau teknik-teknik ilmiah yang digunakan dalam sustu disiplin untuk mencapai suatu maksud atau tujuan. Metode yang digunakan dalam filsafat ilmu yaitu:
-          Metode kritis
-          Metode intuitif
-          Metode skolastik
-          Metode filsafat rene’ decartes dan pengikutnya yang dikenal metode yang bertolak dari analisis mengenai hal-hal komplek.
-          Metode geometri
-          Metode transendental
-          Metode fenomenologis dari hussemetode dialektis dari hegel dan marx
-          Metode neopositivitis
-          Metode analitika
F. TUJUAH FILSAFAT ILMU
Tujuan-tujuan filsafat ilmu sebagai berikut:
1.      Filsafat ilmu sebagai sarana pengujian penalaran ilmiah, sehingga orang menjadi kritis terhadap kegiatan ilmiah
2.      Filsafat ilmu merupakan usaha merefleksi, menguji, mengkritik asumsi dan metode ilmiah
3.      Filsafat ilmu memberikan pendasaran logis terhadap metode keilmiah.

Salah satu yang terpenting dalam filsafat termasuk filsafat ilmu yaitu menyangkut petanyaan dan jawaban atas pertanyaan itu. Fungsi filsafat ilmu yaitu untuk memeberikan landasan filosofi dalam memahami berbagai konsep dan teori suatu disiplin ilmu dan membekali kemampuan untuk membangun teori ilmiah, serta dikatakan pula bahwa filsafat ilmu tumbuh dalam dua fungsi, yaitu:
a.       Sebagai confirmatory theories, yaitu berupaya mendekskripsikan relasi normatif antaraa hipotesis dan evidensi dan theory of exnalation yakni berupaya menjelaskan berbagai fenomena kecil ataupun besar secara sederhana.
b.      Mengkaji filsafat ilmu agar:
-          Tidak terjebak dalam bahaya arogani intelektual
-          Mempertanggung jawabkn metode keilmuan secara logis-rasional
-          Mereflesikan, menguji, mengkritik asumsi dan metode ilmu terus menerus sehingga ilmuan tetap bermain dalam koridor yang benar (metode dan struktur ilmu)
-          Memecahkan masalah keilmuwan secara cerdas dan valid
-          Berpikir sintesis-aplikatif (lintas ilmu-kontektual).   









BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Filsafat dan ilmu adalah dua kata yang saling terkait, baik secara substansial maupun historis karna kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan filsafat. Sebaliknya perkembangan ilmu memperkuat keberadaan filsafat. Filsafat juga telah berhasil mengubah pola pemikiran bangsa yunani dan umat manusia dari pandangan mitosentris menjadi logosentris. Dengan filsafat, pola pikir yang selalu tergantung pada yang mistis diubah menjadi pola pikir yang tergantunga pada rasio, contohnya kejadian alam, seperti gerhana tidak lagi dianggap sebagai kegiatan dewa yang tertidur, tetapi merupakan kejadian alam yang disebabkan oleh matahari, bulan, dan bumi berada pada garis yang sejajar, sehingga bayang-bayang bulan menimpa sebagian permukaan bumi.
Perubahan dari pola pikir mitosentris ke logosentris membawa imflikasi yang tiadak kecil alam dengan segala gejalannya, yang selama di takuti yang kemudian di dekati dan bahkan di ekploitasi.


B.     SARAN
Semoga dengan mempelajari filsafat ilmu kita mampu menanggapi sesuatu dengan kritis dan tidak mudah percaya dari informasi atau pengetahuan yang di berikan oleh orang lai sebelum kita mendapatkan informasi dengan benar. Karna tujuan dari filsafat itu sendiri adalah bagaiman mengembangkan ilmu pengetahuan dan membuktikan kebenarannya.












                                                                                                   
DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Saebani. 2009. Filsafat Ilmu. Bandung: Pustaka Setia. 2009.
Ahmad Charis. Z. 2002. Dimensi Etik dan Asketik Ilmu Pengetahuan Manusia; Kajian Filsafat Ilmu. Yogyakarta; LESFI
Gie, The Liang. 1991. Pengantar Filsafat Ilmu. Loberty. Yogyakarta.
Jalaluddin. 2014. Filsafat Ilmu Pengetahuan dan Peradaban. Edisi Revisi. Palembang: Rajawali Pers.
Muhammadong. 2012. Filsafat Ilmu. Makassar.
Mukhtar. 2013. Orientasi Ke Arah Pemahaman filsafat Ilmu. Jakarta: Kencana.
Subari, Zainal. 1998. Filsafat Ilmu: Pengantar Mata Kuliah Umum Di Perguruan Tinggi. makassar




Tidak ada komentar:

Posting Komentar