Minggu, 08 Mei 2016

Essay sebagai berkas calon ketua umum
“REVITALISASI PERAN HMPS PEND. EKONOMI DALAM MENINGKATKAN EKSISTENSINYA”
Himpunan berasal dari kata dasar himpun yang berarti berkumpul, apabila diberikan imbuhan –an, maka menjadi kumpulan atau perkumpulan. Maka dari itu, Himpunan bermakna kumpulan dari beberapa orang. Himpunan itu ada karena memiliki suatu kesamaan dari orang-orang yang berada didalamnya baik itu kesamaan tujuan, profesi maupun kesamaan wilayahnya. Begitupun HMPS (Himpunan Mahasiswa Program Studi) Pend. Ekonomi. Orang orang yang berada di dalam HMPS Pend. Ekonomi  mempunyai kesamaan profesi, tujuan serta wilayah tempat menuntut ilmu yang sama. Himpunan yang dibentuk karena kesamaan haruslah memiliki suatu arah gerak yang jelas sehingga orang-orang yang berada didalamnya berkapabilitas. Maka dari himpunan ini haruslah memiliki satu tujuan yang sama, cita-cita yang akan dikejar oleh anggotanya itu sendiri sehingga arah gerak dari himpunan itu menjadi jelas. Kegiatan kemahasiswaan di himpunan haruslah mengikuti suatu arahan yang dijewantahkan dalam suatu Tridarma Perguruan Tinggi yaitu Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat. Semua hal ini harus dapat diimplementasikan oleh himpunan secara utuh, sehingga membedakan antara organisasi lain dengan organisasi kemahasiswaan terkhususnya himpunan.
Himpunan mahasiswa yang berada pada tataran jurusan merupakan organisasi kemahasiswaan lahir berdasarkan disiplin keilmuan spesifik yang mewadahi inisiatif mahasiswa dalam mendapatkan proses utuh pendidikan serta merupakan sebuah wadah yang memfasilitasi setiap bakat dan kreatifitas mahasiswa. Tapi bukan berarti mahasiswa yang belum mempunyai bakat dan kreatifitas tidak mendapatkan fasilitas ini, justru himpunan dibentuk untuk menumbuh-kembangkannya. Ketika mahasiswa sudah memiliki hardskill yang bagus, mahasiswa juga harus mempunyai keterampilan dan softskill yang bagus pula. Karena dengan begitu, mahasiswa tidak hanya cerdas dalam berpikir, tapi juga cerdas dalam bekerja sama, memimpin dan menghadapi masalah. Karakter yang seperti itulah yang dibutuhkan masyarakat dan negara saat ini, dibutuhkan orang yang kuat secara akal, mental dan spiritual dalam membangun negara kita.
HMPS Pend. Ekonomi merupakan organisasi ditingkat jurusan yang didirikan atas dasar kesamaan baik kesamaan tujuan, wilayah, maupun disiplin ilmu. HMPS Pend. Ekonomi mempunyi fungsi, dimana fungsi tersebut telah di tetapkan pada Anggaran Dasar (AD) BAB III Pasal 8 yaitu: pertama sebagai penampung, pengevaluasi, dan penyalur aspirasi mahasiswa program studi pendidikan ekonomi FE UNM. Kedua, sebagai pemberi saran dan usul kepada birokrasi kampus UNM dan pihak lain sepanjang tidak bertentangan dengan pedoman organisasi. berhubungan dengan fungsi tersebut secara sadar kita telah menyadari bahwa kedudukan lembaga ini yaitu sebagai wadah untuk menampung aspirasi mahasiwa pendidikan ekonomi terkait permasalahan-permasalahan yang terjadi di kampus terkhususnya pada tataran jurusan pendidikan ekonomi baik itu permasalahan bersifat vertikal maupun horisontal. kemudian aspirasi-aspirasi tersebut dicarikan jalan keluar sehingga permasalahan tersebut dapat terpecahkan. Hal ini sejalan dengan SK Mendiknas No.155/U/1998, yang memutuskan bahwa organisasi kemahasiswaan didirikan dari, oleh dan untuk mahasiswa serta bertanggung jawab kepada mahasiswa.
Menurut pengamatan saya, ada beberapa persoalan yang sangat urgen yang terjadi pada mahasiswa pendidikan ekonomi saat ini. Pertama, persoalan mahasiswa dengan sarana dan prasarana seperti kursi yang sudah tidak layak pakai, ruangan yang tidak memadai serta  lab micro teaching yang paling di butuhkan mahasiswa pendidikan ekonomi sebagai upaya mengembangkan metode belajar dan pembelajarannya sampai sekarang belum ada. Kedua,  pengembangan kompetensi dan keilmuan yang sangat ironis, sadar atau tidak sadar budaya diskusi yang dilakukan oleh mahasiswa semakin hari semakin bobrok itu dikarenakan sifat apatis yang dimiliki oleh kebanyakan mahasiswa pendidikan ekonomi sekarang  ini. Hal ini yang mematikan pergerakan mahasiwa nantinya dan jika hal ini terus berlanjut maka akan sangat memprihatinkan. Selain itu kompetensi yang dimiliki oleh mahasiswa penidikan ekonomi berkenaan dengan profesi yang akan di jalankannya yaitu menjadi seorang guru profesional jauh seperti apa yang diharapkan. Seorang guru idealnya dapat berbicara di depan forum, sebisa mungkin menguasai suatu metode pembelajaran tetapi hal seperti itu masih banyak dari kalangan mahasiswa pendidikan ekonomi yang kurang menguasainya.  Ketiga, persoalan mahasiswa  dengan birokrasi kampus. Berbagai permasalahan mahasiwa yang terjadi terkait dengan birokrasi kampus yang selama ini tidak ada habisnya di karenakan kesenjangan terhadap apa yang di harapakan oleh mahasiswa dengan realita yang terjadi selama ini dikampus.  Oleh kerena itu tugas HMPS Pend. Ekonomi adalah untuk memecah persoalan yang terjadi. Ada beberapa peran HMPS Pend. Ekonomi dalam menyelesaikan persoalan mahasiswa pendidikan ekonomi yaitu:
 pertama, menampung dan menyalurkan aspirasi mahasiwa pendidikan ekonomi. Permasalahan-permasalahan yang dirasakan oleh mahasiswa pendidikan ekonomi yang terjadi di kampus terkhususnya pada tataran jurusan di tampung oleh HMPS Pend. Ekonomi kemudian di evaluasi, selanjutnya  menyalurkan aspirasi tersebut ke pihak birokrasi atau ke pihak yang lainnya. HMPS Pend. Ekonomi merupakan sarana untuk menyalurkan aspirasi mahasiswa pada petinggi-petinggi kampus di tingkat jurusan seperti ketua prodi, dosen dan sebagainya. Tidak selamanya keputusan yang di buat oleh petinggi kampus dapat diterima begitu saja oleh mahasiswa. Jadi sebagai sarana untuk menyalurkan aspirasi tersebut melalui organisasi inilah disampaikan. oleh karenanya pihak birokrasi dapat mengevaluasi kebijakan-kebijakan yang membebani mahasiswa. Maka dari itu pihak birokrasi kampus akan melakukan fungsi controlling-nya. Coba saja bayangkan tanpa ada organisasi mungkin kebijakan apapun yang dikeluarkan pihak atasan mahasiswa akan diterima saja. Karena tidak ada sarana untuk menyampaikan pendapat mereka.
kedua, Mengembangkan kemampuan penalaran dan keilmuan mahasiswa. HMPS Pend. Ekonomi sebagai wadah untuk mengembangkan penalaran dan keilmuan mahasiswa pendidikan ekonomi dengan melakukan kegiatan-kegiatan atau membuat sebuh program kerja yang bersifat mengembangkan keilmuan mahasiwa pendidikan ekonomi seperti diskusi-diskusi, seminar dan sebagainya untuk memperdalam ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh mahasiswa sehingga HMPS Pend. Ekonomi menjadi organisasi yang menunjang akademik mahasiwa pendidikan ekonomi. Akhir-akhir ini Kegiatan rutinitas yang berkualitas seperti diskusi-diskusi memang tergolong dalam program kerja yang sulit  dibandingkan dengan event organizing yang dilaksanakan sesekali saja. Ini tantangan terbesar HMPS yang sampai saat ini belum tampak rima dan gemanya. HMPS Pend. Ekonomi membuat program kerja yang paling meriah, sering membuat program kerja dalam bentuk event yang tidak sejalan dengan bidang keilmuan yang di gelutinya sehingga melupakan peran pentingnya sebagai sebuah Himpunan Mahasiswa ditingkat jurusan.
Ketiga, mengembangkan kepekaan mahasiswa pendidikan ekonomi terhadap lignkungan sosial dan alam. Peran ketiga ini yaitu berorientasi pada pengenalan dan pengetahuan akan kondisi dan keadaan di luar lingkungan perkuliahan, serta membuka wawasan tentang keadaan masyarakat yang berkembang saat ini. Pengenalan yang ada dengan mengajak mahasiswa pendidikan ekonomi untuk mengaplikasikan ilmu yang didapat selama ini kepada masyarakat yang membutuhkannya. Selain hal tersebut, HMPS Pend. Ekonomi memberikan pengabdian pada masyarakat, baik pengabdian sosial maupun pengabdian secara umum. Serta menganalisis permasalaan yang terjadi di lingkungan sekitar, melakukan kajian-kajian mendalam terhadap fenomena sosial. Misalnya persoalan realitas kehidupan di sekitar kita, anak putus sekolah, penggusuran, teknologi pertanian, kurang gizi dan berbagai persoalan lainnya.
Keempat, mengembangkan nilai-nilai spritual mahasiswa pendidikan ekonomi. Tidak bisa dinafikkan bahwa mahasiswa pendidikan ekonomi mepunyai sebuah agama yang dimana mereka yakini selama ini. Oleh karena itu HMPS Pend. Ekonomi mempunyai peran penting untuk memperkuat nilai-nilai spritual mahasiswa pendidikan ekonomi. Hal itu dilakukan dengan cara melakukan diskusi-diskusi ataupun kajia-kajian mengenai keagamaan serta mengimplementasikan ilmu yang didapat. Hal ini sejalan dengan tujuan HMPS Pend. Ekonomi yaitu terbinanya mahasiswa yang akademis, pencipta, pengabdi dan bertanggung jawab terhadap Bangsa dan Negara. Dewasa ini dengan menggunakan pendekatan empiris kita dapat melihat bahwa nilai-nilai spiritual sering dilupakan oleh mahasiswa pendidikan ekonomi. Mahasiswa yang cerdas dan trampil tidak akan bisa membangun negara dengan mudah tanpa dibekali iman yang kuat karena kecenderungan manusia yang lemah dan butuh sandaran tidak akan terpenuhi oleh manusia lain, tapi hanya Sang Pencipta yang bisa memenuhinya.
Jika peran HMPS Pend. Ekonomi tersebut dapat terlaksana dengan baik , saya yakin eksistensi lembaga ini di kampus menjadi sesuatu yang luar biasa. Citra mahasiswa modern yang dianggap hanya tahu mengkritik tanpa solusi bisa berubah. Yang perlu diingat bahwa mahasiswa adalah agen perubahan. Perubahan butuh perjuangan yang tidak setengah-setengah. Mari sama-sama membantu perubahan tanah air yang kita cintai ini sebagai kaum intelektual muda agar Indonesia menjadi Negara yang lebih baik lewat aksi dan karya nyata mahasiswa.
            Berbicara tentang pengaruh, berbicara tentang apa yang telah HMPS berikan kepada program studi pendidikan ekonomi. Tentu bukan berupa  bantuan sembako tapi lebih mulia lagi yaitu berupa pengimplementasian dari ilmu yang telah dipelajari baik dibangku kuliah maupun pada sebuah organisasi. Kegiatan ini bisa berupa membentuk mahasiswa yang proaktif dalam bangku perkuliahan dan juga dengan hal itu dapat  mengecam kebijakan-kebijakan kampus melalui BEM FE UNM mengenai kebijakan yang tidak pro terhadap mahasiswa yang telah dikaji bersama, yang jelas berjalan sesuai dengan koridornya masing-masing.


Jumat, 11 Maret 2016

MAKALAH FILSAFAT ILMU








DISUSUN
OLEH:
KELOMPOK 1
HERMAN                              : 1494040002
ASMIRUL YAQIEN             : 1294041034
ROSMINI                               : 1494040001
YATNA RAMADHAN         : 1194040036 
NURHAYATI. P                   : 1494040003

PENDIDIKAN EKONOMI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2015


BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG

Sejak lahirnya manusia didunia sebagai makhluk bumi, sebenarnya mereka telah memiliki ilmu pengetahuan sebagai penolong hidupnya untuk bertahan dan melangsungkan keberlanjutan generasinya hinga hari ini. Dalam perspetif agama, ilmu bersumber dari sang khalik. Ketika tuhan hendak menciptakan manusia, tentu saja telah di bekali denga seperangkat alat deteksi dan pengembangan ilmu pengetahuan.  Berdasarkan catatan sejarah, sebagaimna di ungkapkan Hamdani dan Fuand (2007), plato mengumpamakan seorang filsuf ialah laksana seorang kapten kapal yang menghabiskan banyak waktunya memandang bintang-bintang di langit. Para kelasi mengungkapkannya sebagai parasit tidak berguna, tapi kata plato, tanpa kerja sang kapten kapal akan tersesat, dan pekerjaan para kelasi menjadi sia-sia, begitulah gambaran posisi dan peran filsafat dalam upaya mengembangkan ilmu pengetahuan.  Sejarah perjalanan ilmu pengetahuan mulai dari klasik hingga kontenporer tercatat, banyak temuan ilmuwan yang tidak dapat menjawab secara tuntas karena keterbatasan ilmu pengetahuan, metodologi, dan tentunya keterbatasan manusia itu sendiri.

Dilihat dari sejarah perkembangannya, Van Peursen memberikan tiga tahapan pemikiran dan kebenaran manusian, yakni:
a.       Mistis, kebenaran atau kenyataan yaitu sesuatu yang “given”. Sesuatu yang mistis tidak perlu ditanyakan, karena kalau di pertanyakan manusia tidak akan bisa menjawab berdasarkan ilmu pengetahuan dan keterbatasan berpikirnya.
b.      Ontologis, tahapan ini manusia dan masyarakat mendapatkan kebenaran melalui riset, logika, dan empiris.
c.       Fungsional, kebenaran dan kenyataan di letakkan pada fungsi atau relasi kemanfataannya secara aksiologis.
Filsafat yaitu hasil akal seorang manusia yang mencari dan memikirkan sesuatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya (radic). Dengan kata lain, filsafat adalah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat kebenaran segala sesuatu. Dalam kaitan dengan cara berfikir, ada tiga karakteristik cara berpikir filsafat:
1.      Sifat menyeluruh, maksudnya seorang ilmuwan tidak akan pernah puas  jika hanya mengenal ilmu hanya  dari segi pandang ilmu itu sendiri. Dia ingin tahu hakikat ilmu dari sudut pandang yang lain, kaitannya dengan moralitas, serta ingin yakin apakah ilmu ini membawa kebahagiaan dirinya.  Hal ini akan membuat ilmuwan tidak akan merasa sombong dan mengaku paling hebat, atau diatas langit masih ada langit, sebagaimana Socrates menyatakan dia tidak tahu apa-apa.
2.      Sifat mendasar, maksudnya sifat yang tidak begitu saja percaya bahwa ilmu itu benar , mengapa ilmu itu benar? Bagaimana proses  penilain berdasarkan kriteria itu dilakukan? Apakah kriteria itu sendiri benar? Lalu, benar sendiri itu apa? Seperti suatu pertanyaan yang melingkar  yang harus dimulai dengan menentukan titik yang benar.
3.      Spekulatif, maksudnya menyusun suatu lingkaran dan menentukan titik awal sebuah lingkaran yang sekaligus menjadi titik, akhirnya dibutuhkan suatu sifat spekulatif baik dari segi proses, analis, maupun pembuktiannya. Sehingga dapat dipisahkan mana yang logis atau tidak.
Cakupan filsafat lebih luas dari ilmu, wilayah filsafat mencakup yang wujud dan tidak wujud (empiris dan non-empiris) cakupan ilmu empiris saja. Awal mulanya filsafat yang melakukan pembahasan secara sistematis, rasional, logis dan empiris. Kemudian pada tataran berikutnya berkembang dan bercabang sehingga menjadi ilmu yang lebih luas dan berkesinambungan, maka dari sinilah timbulnya pemahaman untuk penyatuan filsafat dan ilmu menjadi filsafat ilmu, yakni suatu kajian khusus tentang hakikat ilmu pengetahuan.
B.      RUMUSAN MASALAH
1.      Memahami dan mengetahui hakekat filsafat ilmu beserta pengertian dan cakupannya
2.      Bagaimana objek dan metode filsafat ilmu dalam kehidupan ilmu pengetahuan
3.      Apa tujuan dari filsafat ilmu itu sendiri.

C.     TUJUAN
Agar supaya mahasiswa mampu untuk memahami dan mendalam ilmu pengetahuan dengan di terapkannya filsafat ilmu di perguruan tinggi sebagaiman dinyatakna dalam garis-garis besar haluan negara yang kemudian dalam perkembangan selanjutnya dengan di berlakukannya kurikulum berbasis kompetensi. Maka mata kuliah filsafat ilmu dikelompokka dalam mata kuliah umum yang menjadi dasar pembentukan kepribadian yang tinggi, cerdas dan bertaqwa kepada tuhan yang maha esa serta memiliki wawasan yang luas, bersikap dan bertindak sesuai dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, dan dalam melaksanakan tugas pembangunan nasiona.
Visi mata kuliah filsafat ilmu menjadi sumber nilai dan pedoman bagi penyelenggaraan program studi dalam mengantarkan mahasiswa mengembangkan kepribadiannya. Sedangkan   yang dirumuskan adalah membantu mahasiswa agar mampu mewujudkan nilai dasar agama dan kebudayaan serta kesadaran berbangsa dan bernegara dalam kehidupannya supaya dapat menerapkan ilmu penegetahuan, teknologi dan seni yang dikuasainya dengan rasa tanggung jawab kemanusiaan.

















BAB II
PEMBAHASAN


A. HAKEKAT FILSAFAT ILMU
Filsafat merupakan induk dari segal ilmu, filsafat telah mengantarkan kepada suatu fenomena adanya siklus pengetahuan sehingga membentuk suatu komfigurasi dengan menunjukkan bagaimana pohon ilmu pengetahuan telah tumbuh dan berkembang secara  subur sebagai fenomena kemanusiaan dan menjadi banyak cabang ilmu pengetahuan. Dengan demikian hakikat filsafat ilmu pengetahuan akan berlayar atau berjalan juga filsafat ilmu menentukan kemana ilmu pengetahuan akan diantar atau di kembangkan. Filsafat ilmu merupakan kreativitas seorang filsuf dengan keilmuannya yang menggunakan logika berfikir dan melahirkan ilmu pengetahuan yang beragam pada sebuah pohon ilmu kemudian mengantarkan dan mengembangkannya menjadi cabang yang banyak secara mandiri.
Sejarah juga membuktikan, sebagaiman di jelaskan juraid (2006), bahwa perjalanan manusia telah diantarkan dalam berbagai fase kehidupan. Sejak zaman kuno, zaman pertengahan dan zaman modern sekarang ini telah melahirkan suatu cara pandang terhadap gejala alam dengan berbagai variasi, disinilah pemikiran filsuf telah mengantarkan umat manusia dari mitologi oriented pada suatu arah menuju pola fikir ilmiah oriented, perubahan dari pola fikir mitosentris ke logosentris dalam berbagai sekmentasi kehidupan.
`
B. PENGERTIAN FILSAFAT ILMU
Filsfat ilmu adalah telaah kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu, baik ditinjau dari sudut ontologi, epistemologi, maupun aksiologis yang di lakukan melalui proses dialektika secara mendalam (radic) yang sistematis dan bersifat spekulatif.
Filsafat ilmu yaitu bagian dari epistimologi yang secara spesifik mengkaji hakikaat ilmu. Dan banyak pengertian yang dapat di pahami tentang filsafat ilmu diantaranya, yaitu:
1.      Michael V. Berry: the study of science of the inner logic if scientific theories, and the relations between experiment and theory of scientific methods. “ penelaahan tentang logika intern dari teori ilmiah dan hubungan antara percobaan dan teori, yakni tentang metode ilmiah.”.
2.      May Brodbeck: analisis yang netral secara etis dan filosofis penggambaran dan penjelasan tentang ilmu.
3.      Peter Caws: mengatakan bahwa filsafat ilmu merupakan suatu bagian filsafat, yang berbuat bagi ilmu apa saja yang terdapat dalm filsafat seumumnya, pada seluruh pengalaman manusia.
4.      Ariestoteles murid plato mengatakan filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung didalamnya ilmu metafisika, logika, retrorika, polotik, sosial budaya, dan etestika.


a.       Ciri-ciri filsafat
Beberapa ciri berfikir kefilsafatan yang perlu diketahui antara lain:
1.      Radical, artinya berfikir sampai keakar-akarnya, sehingga sampai pada hakikat atau subtansi yang difikirkan.
2.      Universal, pemikiran filsafat menyangkut pengalamn umum manusia
3.      Konseptual, artinya hasil generalisasi dan abstrak pengalaman manusia.
4.      Koheren, dan konsisten (rantut) koheren artinya dengan kaidah-kaidah berfikir logis. Konsisten artinya tidak mengandung kontradiksi.
5.      Sistematik, artinya pendapat yang merupakan uraian kefilsafatan itu harus saling berhubungan secara teratur dan terkandung adanya maksud dan tujuan tertentu.
6.      Komprehensif, artinya mencakup atau menyeluruh.
7.      Bebas, artinya sampai batas-batas yang luas.
8.      Bertanggung jawab, artinya seseorang yang berfilsafat adalah orang berfikir sekaligus bertanggung jawab terhadap hasil pemikirannya, paling tidak hati nuraninya.
b.      Bidang-bidang utama filsafat
1.      Metafisik
Metafisik adalah bidang utama filsafat, metafisik adalah cabang filsafat yang membahas pesoalan tentang keberadaan (being) atau eksistensi (eksistance). Archie J. Bahn mengatakan bahwa metafisik merupakan suatu penyelidikan pada masalah prihal keberadaan.
Istilah metafisika itu sendiri berasal dari yunani meta – ta – physika yang dapat diartikan sesuatu yang ada di balik atau dibelakang benda-benda fisik. Kendakipun demikian ariestoteles sendiri tidak memakai istilah metafisika, melainkan proto philosophia (filsafat pertama).
2.      Epistomologi
Epistemologi adalah bidang kedua filsafat. Epistomologi berasal dari yunani “episteme” dan “logos”. Episteme artinya pengetahuan (knowledge), logo artinya teori. Dengan demikian epistemologi secara etimologi berarti teori pengetahuan.
3.      Aksiologi
Aksiologi adalah bidang utama ketiga filsafat yang membahas tentang nilai. Istilah aksiologi berasal dari kata exios dan logos. Axios artinya nilai atau sesuatu yang berharga, Logos artinya akal, dan teori. Aksiologi artinya teori nilai.
c.       Azas-azas dalam berfilsafat
Dalam berfilsafat ada lima prinsip penting agar calon filsufitu mendapat hasil optimal (the Liang Gie, 1982: 48-49) yaitu:
1.      Meniadakan kecongkakang (maha tau) sendiri, seseorang yang ingin memulai berfilsafat harus mampu mengendalikan dirinya, terutama sikap merasa diri sudah tahu tentang hal yang akan di pelajari.
2.      Perlunya sikap mental berupa ksetiaan pada kebenaran (a loyality to truth) kesetiaan pada kebenaran yang diperjuangkannya.
3.      Memahami secara bersungguh-sungguh persoalan-persoalan filsafat serta berusaha memikirkan jawabannya.
4.      Latihan  intelektual itu dilakukan secara aktif dari waktu ke waktu dan diungkapkan secara lisan maupun tetulis.
5.      Sikap keterbukaan diri.


C. CAKUPAN FILSAFAT ILMU
The Liang Gie (2007) mengemukakan cakupan filsafat ilmu dari para filsuf dunia sebagai berikut:
1.      Peter angeles, yang menurutnya filsafat ilmu mempunyai empat bidang konsentrasi utama
a.       Telaah mengenai berbagai konsep, pra-anggaran dan metode ilmu
b.      Telaah dan pembenaran mengenai prosese penelaran dalam ilmu
c.       Telaah mengenai keterkaitan antara berbagai ilmu
d.      Telaah mengenai akibat penegetahuan ilmiah bagi hal-hal yang berkaitan denga penyerapan dan pemahaman manusia terhadap realitas.
2.      Cornelius Benyamin, yang memebagi pokok soal filsafat ilmu dalam tiga bidang , yaitu:
a.       Telaah mengenai metode ilmiah dan la,bang ilmiah
b.      Penjelasan tentang konsep dasar dan pangkal pendirian ilmu.
c.       Aneka telaah mengenai saling keterkaitan antara berbagai ilmu dan implikasinya bagi suatu karier alam semesta.
D. OBJEK FILSAFAT ILMU
Pada dasarnya setiap ilmu memiliki dua macam objek yaitu objek material dan objek formal.
1.      Objek material atau pokok bahasab filsafat ilmu adalah ilmu pengetahuan itu sendiri, yaitu pengetahuan yang telah di susun secara sistematis dengn metode ilmiah tertentu.
2.      Objek formal filsafat ilmu adalah hakikat (esensi)ilmu pengetahuan artinya filsafat ilmu lebih menaruh perhatian terhadaap problema-problema  mendasar ilmu pengetahuan, yakni:
-          Landasan ontologis pengembangan ilmu, artinya titik tolak penelaahan ilmu pengetahuan di dasari atas sikap dan pendirian filosofis yang dimiliki oleh seseorang ilmuwan.
-          Landasan epistemologis pengembangan ilmu artinya titik tolak penelaahan ilmu pengetahuan didasarkan atas cara dan prosedur dalam memperoleh kebenaran.
-          Landasan aksiologis pengembangan ilmu merupakan sikap etis yang harus di kembangkan oleh seseorang ilmuwan, terutama dalam kaitannya dengan nilai-nilai yang diyakini kebenarannya.
E. METODE FILSAFAT ILMU
Metode adalah cara bertindak menurut sistem atau aturan tertentu. Metode juga bisa di katakan sebagai proses atau prosedur yang sistematis menurut prinsip atau teknik-teknik ilmiah yang digunakan dalam sustu disiplin untuk mencapai suatu maksud atau tujuan. Metode yang digunakan dalam filsafat ilmu yaitu:
-          Metode kritis
-          Metode intuitif
-          Metode skolastik
-          Metode filsafat rene’ decartes dan pengikutnya yang dikenal metode yang bertolak dari analisis mengenai hal-hal komplek.
-          Metode geometri
-          Metode transendental
-          Metode fenomenologis dari hussemetode dialektis dari hegel dan marx
-          Metode neopositivitis
-          Metode analitika
F. TUJUAH FILSAFAT ILMU
Tujuan-tujuan filsafat ilmu sebagai berikut:
1.      Filsafat ilmu sebagai sarana pengujian penalaran ilmiah, sehingga orang menjadi kritis terhadap kegiatan ilmiah
2.      Filsafat ilmu merupakan usaha merefleksi, menguji, mengkritik asumsi dan metode ilmiah
3.      Filsafat ilmu memberikan pendasaran logis terhadap metode keilmiah.

Salah satu yang terpenting dalam filsafat termasuk filsafat ilmu yaitu menyangkut petanyaan dan jawaban atas pertanyaan itu. Fungsi filsafat ilmu yaitu untuk memeberikan landasan filosofi dalam memahami berbagai konsep dan teori suatu disiplin ilmu dan membekali kemampuan untuk membangun teori ilmiah, serta dikatakan pula bahwa filsafat ilmu tumbuh dalam dua fungsi, yaitu:
a.       Sebagai confirmatory theories, yaitu berupaya mendekskripsikan relasi normatif antaraa hipotesis dan evidensi dan theory of exnalation yakni berupaya menjelaskan berbagai fenomena kecil ataupun besar secara sederhana.
b.      Mengkaji filsafat ilmu agar:
-          Tidak terjebak dalam bahaya arogani intelektual
-          Mempertanggung jawabkn metode keilmuan secara logis-rasional
-          Mereflesikan, menguji, mengkritik asumsi dan metode ilmu terus menerus sehingga ilmuan tetap bermain dalam koridor yang benar (metode dan struktur ilmu)
-          Memecahkan masalah keilmuwan secara cerdas dan valid
-          Berpikir sintesis-aplikatif (lintas ilmu-kontektual).   









BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Filsafat dan ilmu adalah dua kata yang saling terkait, baik secara substansial maupun historis karna kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan filsafat. Sebaliknya perkembangan ilmu memperkuat keberadaan filsafat. Filsafat juga telah berhasil mengubah pola pemikiran bangsa yunani dan umat manusia dari pandangan mitosentris menjadi logosentris. Dengan filsafat, pola pikir yang selalu tergantung pada yang mistis diubah menjadi pola pikir yang tergantunga pada rasio, contohnya kejadian alam, seperti gerhana tidak lagi dianggap sebagai kegiatan dewa yang tertidur, tetapi merupakan kejadian alam yang disebabkan oleh matahari, bulan, dan bumi berada pada garis yang sejajar, sehingga bayang-bayang bulan menimpa sebagian permukaan bumi.
Perubahan dari pola pikir mitosentris ke logosentris membawa imflikasi yang tiadak kecil alam dengan segala gejalannya, yang selama di takuti yang kemudian di dekati dan bahkan di ekploitasi.


B.     SARAN
Semoga dengan mempelajari filsafat ilmu kita mampu menanggapi sesuatu dengan kritis dan tidak mudah percaya dari informasi atau pengetahuan yang di berikan oleh orang lai sebelum kita mendapatkan informasi dengan benar. Karna tujuan dari filsafat itu sendiri adalah bagaiman mengembangkan ilmu pengetahuan dan membuktikan kebenarannya.












                                                                                                   
DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Saebani. 2009. Filsafat Ilmu. Bandung: Pustaka Setia. 2009.
Ahmad Charis. Z. 2002. Dimensi Etik dan Asketik Ilmu Pengetahuan Manusia; Kajian Filsafat Ilmu. Yogyakarta; LESFI
Gie, The Liang. 1991. Pengantar Filsafat Ilmu. Loberty. Yogyakarta.
Jalaluddin. 2014. Filsafat Ilmu Pengetahuan dan Peradaban. Edisi Revisi. Palembang: Rajawali Pers.
Muhammadong. 2012. Filsafat Ilmu. Makassar.
Mukhtar. 2013. Orientasi Ke Arah Pemahaman filsafat Ilmu. Jakarta: Kencana.
Subari, Zainal. 1998. Filsafat Ilmu: Pengantar Mata Kuliah Umum Di Perguruan Tinggi. makassar