MAKALAH FILSAFAT ILMU
DISUSUN
OLEH:
KELOMPOK 1
HERMAN : 1494040002
ASMIRUL
YAQIEN :
1294041034
ROSMINI : 1494040001
YATNA
RAMADHAN : 1194040036
NURHAYATI.
P : 1494040003
PENDIDIKAN EKONOMI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2015
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Sejak lahirnya
manusia didunia sebagai makhluk bumi, sebenarnya mereka telah memiliki ilmu
pengetahuan sebagai penolong hidupnya untuk bertahan dan melangsungkan
keberlanjutan generasinya hinga hari ini. Dalam perspetif agama, ilmu bersumber
dari sang khalik. Ketika tuhan hendak menciptakan manusia, tentu saja telah di
bekali denga seperangkat alat deteksi dan pengembangan ilmu pengetahuan. Berdasarkan catatan sejarah, sebagaimna di
ungkapkan Hamdani dan Fuand (2007), plato mengumpamakan seorang filsuf ialah
laksana seorang kapten kapal yang menghabiskan banyak waktunya memandang
bintang-bintang di langit. Para kelasi mengungkapkannya sebagai parasit tidak
berguna, tapi kata plato, tanpa kerja sang kapten kapal akan tersesat, dan
pekerjaan para kelasi menjadi sia-sia, begitulah gambaran posisi dan peran
filsafat dalam upaya mengembangkan ilmu pengetahuan. Sejarah perjalanan ilmu pengetahuan mulai dari
klasik hingga kontenporer tercatat, banyak temuan ilmuwan yang tidak dapat
menjawab secara tuntas karena keterbatasan ilmu pengetahuan, metodologi, dan
tentunya keterbatasan manusia itu sendiri.
Dilihat
dari sejarah perkembangannya, Van Peursen memberikan tiga tahapan pemikiran dan
kebenaran manusian, yakni:
a. Mistis,
kebenaran atau kenyataan yaitu sesuatu yang “given”. Sesuatu yang mistis tidak
perlu ditanyakan, karena kalau di pertanyakan manusia tidak akan bisa menjawab
berdasarkan ilmu pengetahuan dan keterbatasan berpikirnya.
b. Ontologis,
tahapan ini manusia dan masyarakat mendapatkan kebenaran melalui riset, logika,
dan empiris.
c. Fungsional,
kebenaran dan kenyataan di letakkan pada fungsi atau relasi kemanfataannya
secara aksiologis.
Filsafat
yaitu hasil akal seorang manusia yang mencari dan memikirkan sesuatu kebenaran
dengan sedalam-dalamnya (radic). Dengan kata lain, filsafat adalah ilmu yang
mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat kebenaran segala sesuatu. Dalam
kaitan dengan cara berfikir, ada tiga karakteristik cara berpikir filsafat:
1. Sifat
menyeluruh, maksudnya seorang ilmuwan tidak akan pernah puas jika hanya mengenal ilmu hanya dari segi pandang ilmu itu sendiri. Dia ingin
tahu hakikat ilmu dari sudut pandang yang lain, kaitannya dengan moralitas,
serta ingin yakin apakah ilmu ini membawa kebahagiaan dirinya. Hal ini akan membuat ilmuwan tidak akan
merasa sombong dan mengaku paling hebat, atau diatas langit masih ada langit,
sebagaimana Socrates menyatakan dia tidak tahu apa-apa.
2. Sifat
mendasar, maksudnya sifat yang tidak begitu saja percaya bahwa ilmu itu benar ,
mengapa ilmu itu benar? Bagaimana proses
penilain berdasarkan kriteria itu dilakukan? Apakah kriteria itu sendiri
benar? Lalu, benar sendiri itu apa? Seperti suatu pertanyaan yang
melingkar yang harus dimulai dengan
menentukan titik yang benar.
3. Spekulatif,
maksudnya menyusun suatu lingkaran dan menentukan titik awal sebuah lingkaran
yang sekaligus menjadi titik, akhirnya dibutuhkan suatu sifat spekulatif baik
dari segi proses, analis, maupun pembuktiannya. Sehingga dapat dipisahkan mana
yang logis atau tidak.
Cakupan
filsafat lebih luas dari ilmu, wilayah filsafat mencakup yang wujud dan tidak
wujud (empiris dan non-empiris) cakupan ilmu empiris saja. Awal mulanya
filsafat yang melakukan pembahasan secara sistematis, rasional, logis dan
empiris. Kemudian pada tataran berikutnya berkembang dan bercabang sehingga
menjadi ilmu yang lebih luas dan berkesinambungan, maka dari sinilah timbulnya
pemahaman untuk penyatuan filsafat dan ilmu menjadi filsafat ilmu, yakni suatu
kajian khusus tentang hakikat ilmu pengetahuan.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Memahami
dan mengetahui hakekat filsafat ilmu beserta pengertian dan cakupannya
2. Bagaimana
objek dan metode filsafat ilmu dalam kehidupan ilmu pengetahuan
3. Apa
tujuan dari filsafat ilmu itu sendiri.
C. TUJUAN
Agar
supaya mahasiswa mampu untuk memahami dan mendalam ilmu pengetahuan dengan di
terapkannya filsafat ilmu di perguruan tinggi sebagaiman dinyatakna dalam
garis-garis besar haluan negara yang kemudian dalam perkembangan selanjutnya
dengan di berlakukannya kurikulum berbasis kompetensi. Maka mata kuliah
filsafat ilmu dikelompokka dalam mata kuliah umum yang menjadi dasar
pembentukan kepribadian yang tinggi, cerdas dan bertaqwa kepada tuhan yang maha
esa serta memiliki wawasan yang luas, bersikap dan bertindak sesuai dalam
kehidupan pribadi, bermasyarakat, dan dalam melaksanakan tugas pembangunan
nasiona.
Visi
mata kuliah filsafat ilmu menjadi sumber nilai dan pedoman bagi penyelenggaraan
program studi dalam mengantarkan mahasiswa mengembangkan kepribadiannya.
Sedangkan yang dirumuskan adalah membantu
mahasiswa agar mampu mewujudkan nilai dasar agama dan kebudayaan serta
kesadaran berbangsa dan bernegara dalam kehidupannya supaya dapat menerapkan
ilmu penegetahuan, teknologi dan seni yang dikuasainya dengan rasa tanggung
jawab kemanusiaan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. HAKEKAT
FILSAFAT ILMU
Filsafat
merupakan induk dari segal ilmu, filsafat telah mengantarkan kepada suatu
fenomena adanya siklus pengetahuan sehingga membentuk suatu komfigurasi dengan
menunjukkan bagaimana pohon ilmu pengetahuan telah tumbuh dan berkembang
secara subur sebagai fenomena
kemanusiaan dan menjadi banyak cabang ilmu pengetahuan. Dengan demikian hakikat
filsafat ilmu pengetahuan akan berlayar atau berjalan juga filsafat ilmu
menentukan kemana ilmu pengetahuan akan diantar atau di kembangkan. Filsafat
ilmu merupakan kreativitas seorang filsuf dengan keilmuannya yang menggunakan
logika berfikir dan melahirkan ilmu pengetahuan yang beragam pada sebuah pohon
ilmu kemudian mengantarkan dan mengembangkannya menjadi cabang yang banyak
secara mandiri.
Sejarah
juga membuktikan, sebagaiman di jelaskan juraid (2006), bahwa perjalanan
manusia telah diantarkan dalam berbagai fase kehidupan. Sejak zaman kuno, zaman
pertengahan dan zaman modern sekarang ini telah melahirkan suatu cara pandang
terhadap gejala alam dengan berbagai variasi, disinilah pemikiran filsuf telah
mengantarkan umat manusia dari mitologi
oriented pada suatu arah menuju pola fikir ilmiah oriented, perubahan dari pola fikir mitosentris ke
logosentris dalam berbagai sekmentasi kehidupan.
`
B. PENGERTIAN
FILSAFAT ILMU
Filsfat
ilmu adalah telaah kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat
ilmu, baik ditinjau dari sudut ontologi, epistemologi, maupun aksiologis yang
di lakukan melalui proses dialektika secara mendalam (radic) yang sistematis
dan bersifat spekulatif.
Filsafat ilmu
yaitu bagian dari epistimologi yang secara spesifik mengkaji hakikaat ilmu. Dan
banyak pengertian yang dapat di pahami tentang filsafat ilmu diantaranya,
yaitu:
1.
Michael V. Berry: the study of science
of the inner logic if scientific theories, and the relations between experiment
and theory of scientific methods. “ penelaahan tentang logika intern dari teori
ilmiah dan hubungan antara percobaan dan teori, yakni tentang metode ilmiah.”.
2.
May Brodbeck: analisis yang netral
secara etis dan filosofis penggambaran dan penjelasan tentang ilmu.
3.
Peter Caws: mengatakan bahwa filsafat
ilmu merupakan suatu bagian filsafat, yang berbuat bagi ilmu apa saja yang
terdapat dalm filsafat seumumnya, pada seluruh pengalaman manusia.
4.
Ariestoteles murid plato mengatakan
filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung
didalamnya ilmu metafisika, logika, retrorika, polotik, sosial budaya, dan
etestika.
a. Ciri-ciri
filsafat
Beberapa
ciri berfikir kefilsafatan yang perlu diketahui antara lain:
1. Radical,
artinya berfikir sampai keakar-akarnya, sehingga sampai pada hakikat atau
subtansi yang difikirkan.
2. Universal,
pemikiran filsafat menyangkut pengalamn umum manusia
3. Konseptual,
artinya hasil generalisasi dan abstrak pengalaman manusia.
4. Koheren,
dan konsisten (rantut) koheren artinya dengan kaidah-kaidah berfikir logis.
Konsisten artinya tidak mengandung kontradiksi.
5. Sistematik,
artinya pendapat yang merupakan uraian kefilsafatan itu harus saling
berhubungan secara teratur dan terkandung adanya maksud dan tujuan tertentu.
6. Komprehensif,
artinya mencakup atau menyeluruh.
7. Bebas,
artinya sampai batas-batas yang luas.
8. Bertanggung
jawab, artinya seseorang yang berfilsafat adalah orang berfikir sekaligus
bertanggung jawab terhadap hasil pemikirannya, paling tidak hati nuraninya.
b. Bidang-bidang
utama filsafat
1. Metafisik
Metafisik
adalah bidang utama filsafat, metafisik adalah cabang filsafat yang membahas
pesoalan tentang keberadaan (being) atau eksistensi (eksistance). Archie J.
Bahn mengatakan bahwa metafisik merupakan suatu penyelidikan pada masalah
prihal keberadaan.
Istilah
metafisika itu sendiri berasal dari yunani meta – ta – physika yang dapat
diartikan sesuatu yang ada di balik atau dibelakang benda-benda fisik.
Kendakipun demikian ariestoteles sendiri tidak memakai istilah metafisika,
melainkan proto philosophia (filsafat pertama).
2. Epistomologi
Epistemologi
adalah bidang kedua filsafat. Epistomologi berasal dari yunani “episteme” dan
“logos”. Episteme artinya pengetahuan (knowledge), logo artinya teori. Dengan
demikian epistemologi secara etimologi berarti teori pengetahuan.
3. Aksiologi
Aksiologi
adalah bidang utama ketiga filsafat yang membahas tentang nilai. Istilah aksiologi
berasal dari kata exios dan logos. Axios artinya nilai atau sesuatu yang
berharga, Logos artinya akal, dan teori. Aksiologi artinya teori nilai.
c. Azas-azas
dalam berfilsafat
Dalam berfilsafat ada lima
prinsip penting agar calon filsufitu mendapat hasil optimal (the Liang Gie,
1982: 48-49) yaitu:
1. Meniadakan
kecongkakang (maha tau) sendiri, seseorang yang ingin memulai berfilsafat harus
mampu mengendalikan dirinya, terutama sikap merasa diri sudah tahu tentang hal
yang akan di pelajari.
2. Perlunya
sikap mental berupa ksetiaan pada kebenaran (a loyality to truth) kesetiaan
pada kebenaran yang diperjuangkannya.
3. Memahami
secara bersungguh-sungguh persoalan-persoalan filsafat serta berusaha memikirkan
jawabannya.
4. Latihan intelektual itu dilakukan secara aktif dari
waktu ke waktu dan diungkapkan secara lisan maupun tetulis.
5. Sikap
keterbukaan diri.
C.
CAKUPAN FILSAFAT ILMU
The Liang Gie (2007) mengemukakan cakupan filsafat
ilmu dari para filsuf dunia sebagai berikut:
1. Peter
angeles, yang menurutnya filsafat ilmu mempunyai empat bidang konsentrasi utama
a. Telaah
mengenai berbagai konsep, pra-anggaran dan metode ilmu
b. Telaah
dan pembenaran mengenai prosese penelaran dalam ilmu
c. Telaah
mengenai keterkaitan antara berbagai ilmu
d. Telaah
mengenai akibat penegetahuan ilmiah bagi hal-hal yang berkaitan denga
penyerapan dan pemahaman manusia terhadap realitas.
2. Cornelius
Benyamin, yang memebagi pokok soal filsafat ilmu dalam tiga bidang , yaitu:
a. Telaah
mengenai metode ilmiah dan la,bang ilmiah
b. Penjelasan
tentang konsep dasar dan pangkal pendirian ilmu.
c. Aneka
telaah mengenai saling keterkaitan antara berbagai ilmu dan implikasinya bagi
suatu karier alam semesta.
D.
OBJEK FILSAFAT ILMU
Pada dasarnya setiap ilmu memiliki dua macam objek
yaitu objek material dan objek formal.
1. Objek
material atau pokok bahasab filsafat ilmu adalah ilmu pengetahuan itu sendiri,
yaitu pengetahuan yang telah di susun secara sistematis dengn metode ilmiah
tertentu.
2. Objek
formal filsafat ilmu adalah hakikat (esensi)ilmu pengetahuan artinya filsafat ilmu
lebih menaruh perhatian terhadaap problema-problema mendasar ilmu pengetahuan, yakni:
-
Landasan ontologis pengembangan ilmu,
artinya titik tolak penelaahan ilmu pengetahuan di dasari atas sikap dan
pendirian filosofis yang dimiliki oleh seseorang ilmuwan.
-
Landasan epistemologis pengembangan ilmu
artinya titik tolak penelaahan ilmu pengetahuan didasarkan atas cara dan
prosedur dalam memperoleh kebenaran.
-
Landasan aksiologis pengembangan ilmu
merupakan sikap etis yang harus di kembangkan oleh seseorang ilmuwan, terutama
dalam kaitannya dengan nilai-nilai yang diyakini kebenarannya.
E.
METODE FILSAFAT ILMU
Metode adalah cara bertindak menurut sistem atau
aturan tertentu. Metode juga bisa di katakan sebagai proses atau prosedur yang
sistematis menurut prinsip atau teknik-teknik ilmiah yang digunakan dalam sustu
disiplin untuk mencapai suatu maksud atau tujuan. Metode yang digunakan dalam
filsafat ilmu yaitu:
-
Metode kritis
-
Metode intuitif
-
Metode skolastik
-
Metode filsafat rene’ decartes dan
pengikutnya yang dikenal metode yang bertolak dari analisis mengenai hal-hal
komplek.
-
Metode geometri
-
Metode transendental
-
Metode fenomenologis dari hussemetode
dialektis dari hegel dan marx
-
Metode neopositivitis
-
Metode analitika
F.
TUJUAH FILSAFAT ILMU
Tujuan-tujuan filsafat ilmu sebagai berikut:
1. Filsafat
ilmu sebagai sarana pengujian penalaran ilmiah, sehingga orang menjadi kritis
terhadap kegiatan ilmiah
2. Filsafat
ilmu merupakan usaha merefleksi, menguji, mengkritik asumsi dan metode ilmiah
3. Filsafat
ilmu memberikan pendasaran logis terhadap metode keilmiah.
Salah satu yang terpenting dalam filsafat termasuk
filsafat ilmu yaitu menyangkut petanyaan dan jawaban atas pertanyaan itu.
Fungsi filsafat ilmu yaitu untuk memeberikan landasan filosofi dalam memahami
berbagai konsep dan teori suatu disiplin ilmu dan membekali kemampuan untuk
membangun teori ilmiah, serta dikatakan pula bahwa filsafat ilmu tumbuh dalam
dua fungsi, yaitu:
a. Sebagai
confirmatory theories, yaitu berupaya mendekskripsikan relasi normatif antaraa
hipotesis dan evidensi dan theory of exnalation yakni berupaya menjelaskan
berbagai fenomena kecil ataupun besar secara sederhana.
b. Mengkaji
filsafat ilmu agar:
-
Tidak terjebak dalam bahaya arogani
intelektual
-
Mempertanggung jawabkn metode keilmuan
secara logis-rasional
-
Mereflesikan, menguji, mengkritik asumsi
dan metode ilmu terus menerus sehingga ilmuan tetap bermain dalam koridor yang
benar (metode dan struktur ilmu)
-
Memecahkan masalah keilmuwan secara
cerdas dan valid
-
Berpikir sintesis-aplikatif (lintas
ilmu-kontektual).
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Filsafat
dan ilmu adalah dua kata yang saling terkait, baik secara substansial maupun
historis karna kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan filsafat. Sebaliknya
perkembangan ilmu memperkuat keberadaan filsafat. Filsafat juga telah berhasil
mengubah pola pemikiran bangsa yunani dan umat manusia dari pandangan
mitosentris menjadi logosentris. Dengan filsafat, pola pikir yang selalu
tergantung pada yang mistis diubah menjadi pola pikir yang tergantunga pada
rasio, contohnya kejadian alam, seperti gerhana tidak lagi dianggap sebagai
kegiatan dewa yang tertidur, tetapi merupakan kejadian alam yang disebabkan
oleh matahari, bulan, dan bumi berada pada garis yang sejajar, sehingga
bayang-bayang bulan menimpa sebagian permukaan bumi.
Perubahan
dari pola pikir mitosentris ke logosentris membawa imflikasi yang tiadak kecil
alam dengan segala gejalannya, yang selama di takuti yang kemudian di dekati
dan bahkan di ekploitasi.
B.
SARAN
Semoga
dengan mempelajari filsafat ilmu kita mampu menanggapi sesuatu dengan kritis
dan tidak mudah percaya dari informasi atau pengetahuan yang di berikan oleh
orang lai sebelum kita mendapatkan informasi dengan benar. Karna tujuan dari
filsafat itu sendiri adalah bagaiman mengembangkan ilmu pengetahuan dan
membuktikan kebenarannya.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Saebani.
2009. Filsafat Ilmu. Bandung: Pustaka
Setia. 2009.
Ahmad Charis. Z. 2002. Dimensi Etik dan Asketik Ilmu Pengetahuan Manusia; Kajian Filsafat Ilmu.
Yogyakarta; LESFI
Gie, The Liang.
1991. Pengantar Filsafat Ilmu.
Loberty. Yogyakarta.
Jalaluddin. 2014. Filsafat Ilmu Pengetahuan dan Peradaban. Edisi Revisi. Palembang:
Rajawali Pers.
Muhammadong. 2012.
Filsafat Ilmu. Makassar.
Mukhtar. 2013. Orientasi Ke Arah Pemahaman filsafat Ilmu.
Jakarta: Kencana.
Subari, Zainal. 1998. Filsafat Ilmu: Pengantar Mata Kuliah Umum Di Perguruan Tinggi.
makassar